Article

Membedakan Pelatihan Dewasa dan Anak Anak

Mengapa pelatihan korporasi belum menghasilkan dampak dan bagaimana andragogi membuat pembelajaran benar-benar merekat dan diaplikasikan

Q
By Quantara Team
3 min read
Membedakan Pelatihan Dewasa dan Anak Anak

Di banyak organisasi, pelatihan masih dibangun dengan pola “kelas”: materi disampaikan satu arah, peserta diminta menyimak, lalu dianggap selesai ketika sesi berakhir. Sayangnya, cara ini sering tidak sejalan dengan dunia kerja yang serba cepat dan penuh konteks. Akibatnya, keterlibatan rendah, materi cepat lupa, dan yang paling terasa: perilaku kerja tidak berubah. Masalahnya bukan pada kemampuan belajar orang dewasa, melainkan pada pendekatannya.

Model yang memperlakukan peserta sebagai penerima pasif berasal dari pedagogi, gaya belajar yang cocoknya untuk anak-anak karena pengajar memegang kendali penuh. Untuk pelatihan profesional, yang lebih tepat adalah andragogi: pendekatan yang memang didesain untuk cara orang dewasa berpikir, mengambil keputusan, dan memaknai pengalaman kerja. 

How Well Do You Know the Father of Adult Learning?

Konsep andragogi dipopulerkan pada 1968 oleh Malcolm Knowles. Intinya sederhana: tugas fasilitator bukan “menuangkan ilmu”, tetapi membantu orang dewasa belajar dengan cara yang relevan dan bisa langsung dipakai. Fasilitator bukan sekadar mengajar, melainkan membimbing. 

Agar pelatihan lebih efektif, terdapat lima cara pandang penting tentang pelatihan tim dewasa: 

  1. Kemandirian (self-concept) : Orang dewasa cenderung ingin memegang kendali atas proses belajarnya. Mereka lebih responsif ketika diberi pilihan, ruang eksplorasi, dan kesempatan menentukan fokus yang paling dibutuhkan untuk pekerjaannya. 
  2. Pengalaman sebagai modal (adult experience) : Peserta dewasa membawa pengalaman kerja yang kaya, dan itu bukan “gangguan”, justru bahan bakar pembelajaran. Metode seperti diskusi, studi kasus, dan refleksi membantu menghubungkan konsep baru dengan situasi nyata yang sudah mereka alami. 
  3. Siap belajar ketika ada kebutuhan nyata (readiness to learn) : Kesiapan belajar biasanya muncul saat ada urgensi, seperti target baru, perubahan sistem, tantangan tim, atau tuntutan peran. Kalau peserta tidak melihat manfaat langsungnya, materi mudah terasa “jauh” dan cepat dilupakan. 
  4. Berorientasi pada pemecahan masalah (orientation to learning) : Orang dewasa lebih tertarik pada pembelajaran yang menjawab pertanyaan “ini bisa dipakai untuk menyelesaikan apa?”. Mereka cenderung kurang cocok dengan materi yang hanya disusun seperti mata pelajaran tanpa aplikasi yang jelas. 
  5. Motivasi banyak datang dari dalam (motivation to learn) : Insentif eksternal seperti sertifikat atau penilaian bisa membantu, tetapi pendorong terbesar sering bersifat internal: ingin lebih percaya diri, kinerja meningkat, merasa kompeten, dan bertumbuh secara personal maupun profesional. 

Jika lima prinsip ini dijadikan dasar, desain pelatihan akan berubah: lebih banyak dialog daripada ceramah, lebih banyak praktik daripada teori panjang, dan lebih banyak konteks kerja daripada contoh generik. Pada akhirnya, pergeseran paling penting adalah dari “teaching” ke “facilitating”: menciptakan lingkungan belajar yang menghargai pengalaman dan kemandirian peserta, sehingga hasilnya tidak berhenti sebagai pengetahuan, tapi menjadi kebiasaan kerja yang bertahan lama.

Tags

#HumanResources #Training #Andragogy

Related Insights

You might also be interested in these insights

Need Expert Guidance?

Our consulting team can help you implement the insights from this article in your business.

Hubungi Kami